Kamis, 14 Mei 2015

Surat untukmu

Teruntuk kamu. Si tuan yang tak pernah hilang dari ingatan..
Hai tuan bagaimana? Kenapa lama tak berkabar. Sudahkah lupa pada diri ini??
Ataukah sudah mendapatkan rumahmu?? Rumahmu yang sesungguhnya??
Haha akhirnya aku menjadi sekian dari pemberhentianmu yang lekas kau lupa..
Turutlah bibir ini tersenyum untukmu.. turut berbahagia tuk rumah barumu. Tapi tuan, mata ini rona wajah ini tak pula bisa ingkar i..
Sedikit sakit untuk goresan yang ada. Untuk puing" diri yang runtuh terurai..
Duhai tuan betapa akupun tak ingin berharap lebih. Tapi apa daya angan tak bisa d hentikan. Dan hati ikut andil dalam angan yang tak berkesudahan. Hingga kini akhirnya runtuh pecah tak berbentuk..
Selamat berbahagia tuan. Dan tolong jangan pula hiraukan halte usang ini lagi nanti. Biar.. ku raup puing" ku yang pernah jatuh.. biar.. sedikit demi sedikit ku susun meski tak diragukan tak kan pernah sama lagi.
Terlalu banyak retakan yg ada. Terlalu sulit tuk menghapuskannya,  menyempurnakan nya...
Tapi tak apa, aku kan berusaha. Dan setidaknya tolong biarkan aku dalam fase tak tersentuhku. Entah untuk berapa lama. Yang setidaknya menyamarkan sedikit retakan yg ada.
Berbahagialah..
Selamat tinggal sayang, si tuan hati..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar