Teruntuk kamu yang di situ.
Maaf tlah membuatmu merasa menjadi handsaplast ku. Sungguh bukan maksud hati seperti itu. Ya aku memang sedang luka. Aku memang sedang sakit, tapi apa salah jika ku mencari pengobatan. Bukan, hal itu tidak pula menjadikan mu sebagai handsaplast ku yg setelah luka ku sembuh lantas ku membuangmu. TIDAK.bukan seperti itu.
Aku ingin kamu menjadi betadine ku. Sembuhkan sedikit demi sedikit lukaku. Meresap menjadi satu dalam tiap pori" hatiku. Maaf jikalau salah penyampaianku dalam sikapku. Jadi bukan inginku sembuh dalam sekejap mata. Tapi denganmu betadine ku, ku ingin sembuh perlahan. Dan mengisi tiap pori" hatiku hanya denganmu.
Ini sedikit pengungkapanku. Untuk kamu betadine ku. Semoga nanti kamu bisa membaca sepenggal kata yg tlah ku tulis untukmu. Eemoga sedikit kata ini bisa mendamaikan hatimu memberi sedikit penerangan untukmu. Dan disini aku menunggumu, dengan sedikit lukaku yg kali ini bukan karena dia tapi karnamu yg pergi meninggalkanku. Disini sedikit banyak harapku kamu kembali mengobati lukaku. Aku menunggumu Betadine hatiku. :)
Senin, 17 Agustus 2015
Betadine
Sabtu, 01 Agustus 2015
Maaf aku memilih.
Kekasih, maaf jika aku memilih.
Ada getar rasa berbeda, untukmu yang pernah hadir menjadi warna.
Oh bukan, bukan pernah. Sampai tertulisnya ini, warna itu masihlah kamu.
Iya, indahmu terlalu sulit aku pudarkan.
Seakan di wajahmu ada purnama yang tenggelam. Menyita habis seluruh perhatian.
Kekasih, andai pena takdir bisa aku tulis sendiri, akan aku sandingkan namamu dan namaku saling bersisi.
Merubah segala nyata, memerintah seluruh semesta, untuk mengiyakan kebersamaan kita.
Tapi aku siapa? Aku hanya makhluk tanpa daya jika bukan dengan pertolongan-Nya.
Jangankan merubah takdir kita, temukan mantra yang bisa hadirkan cinta di hatimupun aku tak bisa.
Bukankah semua hanya akan terjadi dengan seizin-Nya?
Sedang memintamu pada Tuhanku, aku tak akan pernah mampu.
Bukan, kekasih. Bukan aku tak mau memintamu pada Pemilikmu.
Aku hanya takut Dia mentertawakanku, seakan aku lebih tau mana yang terbaik untukku.
Maka kekasih, maafkan jika akhirnya aku harus memilih.
Kekasih, aku bukan memilih melupakanmu.
Sungguh, aku bukanlah pelupa yang handal dalam masalah rasa.
Hanya saja, aku memang harus memilih kehendak Rabbku. Itu yang terbaik untukku dan untukmu.
Kekasih, maafkan aku tak bisa menjadikanmu segalanya. Tak bisa menjadikanmu satu-satunya. Terlebih tak bisa aku menjadikanmu muara atas segala harap dan asa.
Aku milik-Nya, kekasih. Aku milik-Nya.
Tak mampu aku duakan Dia. Tak ingin aku menentang segala mau-Nya.
Tidak kekasih, aku tidak bisa.
Segalaku terletak dalam genggam-Nya.
Maka jika jarakku denganmu adalah ingin-Nya, aku bisa apa?
Dan inilah pilihanku, menjalani segala kehendak-Nya terhadapku. Sungguh, kehendak hati ini tak lebih utama dari kehendak Sang Rabbi.
Kekasih, akankah kamu mengerti semua ini?
Aku tukar apapun demi ridho-Nya, sekalipun itu berarti mencipta jarak denganmu seberapapun jauhnya.
Kekasih, percayalah, sesungguhnya aku terluka. Sejujurnya aku menanggung derita. Jarak ini mencipta lara.
Perih yang tak tergambar kata.
Luka yang lebar menganga.
Dan isak yang kutahan dalam dada.
Kekasih, aku harus pergi. Bukan darimu, tapi dari mimpiku sendiri.
Aku tak sisakan apa-apa selain doa dan keyakinan dalam dada.
Bahwa jika memang akulah rusuk hilangmu itu, yakinku suatu saat di waktu yang tepat, Dia akan menuntunmu datang dan memperjuangkanku dengan begitu hebat.
Mungkin tidak sekarang, mungkin di masa depan.
Mungkin juga tidak dunia, mungkin bisa saja di surga.
Kekasih, sekali lagi maaf karena aku telah memilih.